Jateng

Waspada Serangan Jantung Saat Lebaran 2026: Dokter Ungkap Faktor Pemicu yang Sering Diabaikan

Theo Adi Pratama | 21 Maret 2026, 11:35 WIB
Waspada Serangan Jantung Saat Lebaran 2026: Dokter Ungkap Faktor Pemicu yang Sering Diabaikan
foto ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, LEBARAN selalu identik dengan pulang kampung, bersilaturahmi, dan tentu saja—menyantap hidangan khas yang menggugah selera. Opor ayam bersantan kental, rendang yang dimasak berjam-jam, hingga aneka camilan manis seolah menjadi sahabat setia di setiap rumah.

Namun di balik kemeriahan itu, para ahli kesehatan menyebut ada satu ancaman yang kerap luput dari perhatian: serangan jantung.

Bukan sekadar mitos belaka. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan adanya lonjakan signifikan kasus serangan jantung selama periode liburan besar .

Pola yang sama diperkirakan terjadi pula saat Lebaran, mengingat kesamaan faktor pemicu seperti perubahan pola makan, aktivitas fisik yang menurun, hingga tekanan emosional selama mudik dan berkumpul dengan keluarga.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat momen penuh kebahagiaan ini justru berisiko bagi kesehatan jantung? Dan bagaimana cara tetap menikmati Lebaran tanpa harus khawatir akan ancaman yang satu ini?

Baca Juga: Batas Aman Konsumsi Kue Kering Lebaran 2026, Ahli Gizi Ungkap Jumlah Ideal agar Terhindar dari Risiko Diabetes

Definisi: Apa Itu Serangan Jantung dan Mengapa Rentan Terjadi Saat Liburan?

Secara medis, serangan jantung atau infark miokard terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tersumbat.

Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan plak lemak (aterosklerosis) di pembuluh darah arteri koroner yang kemudian pecah dan membentuk bekuan darah .

Akibatnya, otot jantung kekurangan oksigen dan mulai mengalami kerusakan permanen dalam hitungan menit.

Yang menarik, fenomena lonjakan serangan jantung saat liburan memiliki istilah medis tersendiri: holiday heart syndrome atau sindrom jantung liburan.

Kondisi ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1978 dan merujuk pada gangguan irama jantung—terutama fibrilasi atrium—yang dipicu oleh konsumsi berlebihan, baik makanan berlemak maupun minuman berkafein .

Dalam kasus yang lebih berat, sindrom ini dapat berkembang menjadi serangan jantung akut.

Sebuah studi dalam British Medical Journal yang mengamati 283.000 kasus serangan jantung antara tahun 1998 hingga 2013 menemukan bahwa risiko serangan jantung meningkat 15 persen saat Natal dan melonjak hingga 20 persen pada malam Tahun Baru .

Meskipun penelitian tersebut dilakukan dalam konteks liburan akhir tahun di negara Barat, para ahli sepakat bahwa prinsip yang sama berlaku untuk Lebaran.

"Sudah ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa momen atau acara apa pun yang menimbulkan stres skala nasional bisa meningkatkan risiko serangan jantung," jelas Christopher Kelly, MD, ahli jantung dari Columbia University Medical Center, seperti dikutip dari laporan kesehatan .

Faktor Risiko: Kombinasi Mematikan di Hari Lebaran

Mengapa Lebaran menjadi periode yang rentan? Dokter spesialis jantung menyebut setidaknya ada empat faktor utama yang bekerja secara sinergis, menciptakan "badai sempurna" bagi kesehatan jantung.

1. Pola Makan yang Berubah Drastis

Hidangan Lebaran terkenal dengan tiga kata: tinggi lemak, tinggi gula, dan tinggi garam . Rendang yang legit berasal dari santan dan daging berlemak, opor ayam dengan kuah kental bersantan, serta sambal goreng ati yang kaya kolesterol—semuanya menjadi sumber lemak jenuh yang dapat melonjakkan kadar kolesterol jahat (LDL) secara signifikan.

Tak hanya itu, aneka kue kering dan minuman manis seperti sirop atau es buah menyumbang gula berlebih yang dapat memicu lonjakan gula darah . Konsumsi garam yang tinggi dari berbagai hidangan juga berisiko meningkatkan tekanan darah, yang menjadi faktor utama penyakit kardiovaskular .

"Satu kali makan besar saat Lebaran bisa mengandung kalori setara dengan kebutuhan makan seharian," ungkap seorang praktisi gizi. "Kombinasi lemak jenuh, gula, dan natrium dalam satu waktu dapat memicu lonjakan tekanan darah dan beban kerja jantung secara tiba-tiba."

2. Stres Emosional dan Kelelahan Fisik

Lebaran bukan hanya soal makanan. Perjalanan mudik yang melelahkan, persiapan menyambut tamu, hingga tekanan sosial untuk "menyuguhkan yang terbaik" menjadi sumber stres yang tak terelakkan. Padahal, stres emosional diketahui dapat memicu peningkatan hormon kortisol dan adrenalin, yang berdampak pada lonjakan tekanan darah serta gangguan irama jantung .

Penelitian dari Harvard Medical School menemukan bahwa stres meningkatkan aktivitas di bagian otak bernama amigdala—pusat pengolahan emosi—yang kemudian memicu tulang sumsum untuk memproduksi lebih banyak sel imun. Peningkatan sel imun ini justru menyebabkan peradangan di arteri, membuat dinding pembuluh darah menipis dan rentan pecah .

"Jika ini terjadi di arteri koroner, bisa menyebabkan serangan jantung. Jika terbentuk di arteri kepala atau leher, kita bisa mengalami stroke," jelas para peneliti dalam temuan tersebut .

3. Perubahan Rutinitas dan Kurang Tidur

Liburan panjang kerap membuat jadwal tidur berantakan. Begadang untuk persiapan Lebaran, bangun lebih awal untuk menyambut tamu, atau sekadar berbincang larut malam dengan keluarga—semua ini mengakibatkan kurangnya waktu istirahat. Padahal, tidur yang cukup (7–8 jam per hari) berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh dan kestabilan sistem kardiovaskular .

4. Penurunan Aktivitas Fisik

Saat hari raya, rutinitas olahraga sering kali ditinggalkan. Padatnya jadwal bersilaturahmi dan berkumpul membuat banyak orang enggan bergerak aktif. Padahal, aktivitas fisik yang teratur membantu menjaga sirkulasi darah, membakar kalori berlebih, dan menjaga berat badan ideal .

Penelitian: Bukti Ilmiah di Balik Lonjakan Kasus

Meskipun penelitian spesifik tentang Lebaran masih terbatas, berbagai studi global memberikan gambaran jelas tentang hubungan antara periode liburan dan serangan jantung.

Sebuah studi yang dipublikasikan di British Medical Journal mencatat peningkatan 15 persen kasus serangan jantung saat Natal dan 20 persen saat Tahun Baru .

Para peneliti menduga kombinasi faktor emosional, perubahan pola makan, dan penundaan pencarian pertolongan medis menjadi penyebab utama.

Fenomena serupa juga ditemukan di berbagai belahan dunia. Di Jerman, misalnya, risiko serangan jantung meningkat saat tim nasional berlaga di Piala Dunia—momen yang memicu stres emosional kolektif .

Di Swedia, hari Senin pagi—saat tekanan pekerjaan mulai terasa—juga menjadi waktu dengan risiko kejadian jantung tertinggi.

Kesamaan dari semua temuan ini adalah satu hal: stres akut dan perubahan perilaku dalam waktu singkat dapat memicu kejadian kardiovaskular, terutama pada individu yang sudah memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi .

Gejala: Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan

Salah satu alasan mengapa serangan jantung saat liburan sering berakibat fatal adalah keterlambatan penanganan.

Banyak orang mengabaikan gejala awal dengan alasan sibuk, merasa "hanya kecapekan", atau enggan merusak suasana kebersamaan.

Kementerian Kesehatan melalui laman Yankes menjelaskan bahwa serangan jantung tidak selalu muncul secara tiba-tiba.

Sebagian besar kasus justru terjadi secara perlahan, dengan keluhan ringan yang hilang timbul .

Berikut adalah tanda-tanda peringatan yang perlu diwaspadai:

  1. Nyeri atau tekanan di dada seperti diremas, rasa penuh, atau ketidaknyamanan di tengah dada yang dapat berlangsung beberapa menit atau hilang timbul .

  2. Nyeri menjalar ke bagian tubuh atas seperti satu atau kedua lengan, punggung, leher, rahang, atau perut .

  3. Sesak napas dan kelelahan luar biasa, baik dengan atau tanpa rasa tidak nyaman di dada. Pada wanita, gejala ini sering kali lebih dominan .

  4. Tanda-tanda lain seperti keringat dingin, mual, pusing, dan rasa cemas yang tidak biasa .

  5. Pada lansia, bisa berupa terjatuh tiba-tiba tanpa sebab yang jelas .

"Jika Anda atau orang di dekat Anda mengalami ketidaknyamanan di dada, terutama dengan satu atau lebih tanda/gejala lainnya, segera hubungi 118 atau nomor darurat setempat," imbau Kementerian Kesehatan .

Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan

Dalam euforia Lebaran, beberapa kebiasaan berikut justru memperbesar risiko serangan jantung tanpa disadari:

Kesalahan

Dampak

Mengabaikan gejala awal

Menunda pertolongan medis yang seharusnya diberikan dalam "golden period" (waktu emas)

Terus makan meski sudah kenyang

Beban kerja jantung meningkat akibat pencernaan yang berat

Kurang minum air putih

Dehidrasi membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah

Mengonsumsi minuman berkafein berlebihan

Kopi atau teh dalam jumlah banyak dapat memicu palpitasi (jantung berdebar)

Langsung berbaring setelah makan besar

Memperlambat pencernaan dan meningkatkan risiko naiknya asam lambung yang dapat meniru gejala jantung

Tidak membawa obat rutin saat mudik

Pasien dengan riwayat penyakit jantung atau hipertensi berisiko mengalami komplikasi tanpa pengobatan teratur

Penelitian menunjukkan bahwa pasien serangan jantung yang datang ke rumah sakit saat liburan cenderung memiliki hasil yang lebih buruk, sebagian karena keterlambatan penanganan dan keterbatasan akses fasilitas kesehatan .

Sebuah kasus nyata terjadi di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada Maret 2025, di mana seorang penumpang mengalami serangan jantung ringan usai melakukan perjalanan mudik.

Beruntung, petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) bergerak cepat memberikan pertolongan awal dan merujuk pasien ke rumah sakit .

Tips Aman: Menjaga Kesehatan Jantung Saat Lebaran

Kabar baiknya, risiko serangan jantung saat Lebaran dapat dikendalikan. Para ahli telah merumuskan sejumlah langkah sederhana namun efektif:

1. Jaga Porsi dan Komposisi Makanan

Prinsip "isi piringku" dari Kementerian Kesehatan bisa menjadi panduan: sepertiga piring diisi sayur dan buah, sepertiga lainnya protein dan karbohidrat kompleks. Hindari mengambil makanan dalam porsi besar sekaligus. Lebih baik ambil sedikit demi sedikit dan berhenti sebelum terlalu kenyang.

2. Batasi Konsumsi Lemak, Gula, dan Garam

Jika memungkinkan, pilih bagian daging tanpa lemak dari rendang atau opor. Kurangi konsumsi kuah santan yang kaya lemak jenuh. Untuk camilan, batasi kue kering dan pilih buah segar sebagai alternatif.

3. Tetap Terhidrasi

Perbanyak minum air putih, minimal 1,5–2 liter per hari . Hindari minuman manis bersoda atau sirop yang tinggi gula tambahan.

4. Kelola Stres dengan Bijak

Jangan memaksakan diri untuk mengunjungi semua kerabat dalam satu hari. Buat prioritas dan jadwal yang realistis. Luangkan waktu untuk beristirahat di antara jadwal bersilaturahmi. Jika merasa lelah, tidak apa-apa untuk beristirahat atau menolak undangan tambahan.

5. Tetap Aktif Bergerak

Sisihkan waktu untuk aktivitas fisik ringan, seperti jalan kaki saat bersilaturahmi jika jaraknya memungkinkan, atau melakukan peregangan di sela-sela aktivitas . Aktivitas fisik minimal 30 menit per hari membantu membakar kalori berlebih dan menjaga sirkulasi darah tetap lancar.

6. Cukupi Waktu Tidur

Usahakan tetap tidur 7–8 jam per hari meskipun dalam suasana liburan . Jika harus begadang, imbangi dengan tidur siang atau istirahat yang cukup di waktu lain.

7. Kenali Faktor Risiko Pribadi

Bagi Anda yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung, pastikan untuk:

  • Tetap minum obat secara teratur meskipun sedang liburan

  • Membawa persediaan obat yang cukup selama mudik

  • Memeriksakan tekanan darah secara berkala

  • Konsultasikan dengan dokter sebelum Lebaran untuk mendapatkan arahan khusus

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah benar serangan jantung lebih sering terjadi saat Lebaran?
Penelitian global menunjukkan lonjakan kasus serangan jantung hingga 20 persen selama periode liburan. Meskipun penelitian spesifik untuk Lebaran terbatas, faktor pemicunya—seperti perubahan pola makan, stres, dan kurang istirahat—sangat relevan dengan kondisi Lebaran.

2. Berapa lama waktu emas (golden period) penanganan serangan jantung?
Serangan jantung memerlukan penanganan medis secepat mungkin. Idealnya, pasien harus mendapatkan pertolongan dalam 1–2 jam pertama setelah gejala muncul untuk meminimalkan kerusakan otot jantung permanen.

3. Apakah orang muda juga berisiko terkena serangan jantung saat Lebaran?
Risiko serangan jantung meningkat seiring usia, tetapi faktor gaya hidup seperti merokok, pola makan tidak sehat, dan stres dapat memicu kejadian jantung pada usia muda . Penelitian menunjukkan lebih dari separuh kasus sindrom jantung liburan terjadi pada individu berusia di bawah 65 tahun .

4. Apa yang harus dilakukan jika melihat seseorang mengalami gejala serangan jantung?
Segera hubungi nomor darurat (118) atau ambulans. Sambil menunggu bantuan, buat korban tetap tenang dalam posisi duduk atau setengah duduk, longgarkan pakaian yang ketat, dan tanyakan apakah mereka memiliki obat jantung seperti nitrogliserin .

5. Apakah aman mengonsumsi kopi saat Lebaran bagi penderita jantung?
Kafein dalam kopi dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Untuk individu dengan riwayat penyakit jantung, sebaiknya batasi konsumsi kopi dan hindari minuman berkafein berlebihan .

6. Apakah olahraga saat Lebaran tetap perlu dilakukan?
Ya, tetap aktif bergerak sangat dianjurkan. Aktivitas ringan seperti jalan kaki, membantu membersihkan rumah, atau bermain dengan anak-anak tetap memberikan manfaat untuk menjaga metabolisme tubuh .

7. Bagaimana dengan konsumsi alkohol saat Lebaran?
Meskipun alkohol bukan bagian dari tradisi Lebaran mayoritas masyarakat Indonesia, perlu diingat bahwa konsumsi alkohol berlebihan merupakan faktor risiko utama holiday heart syndrome karena dapat memicu fibrilasi atrium .

Lebaran yang Sehat adalah Lebaran yang Bermakna

Serangan jantung saat Lebaran bukanlah mitos, tetapi bukan pula takdir yang tak bisa dihindari.

Para ahli sepakat bahwa dengan kesadaran dan pengendalian diri, risiko ini dapat ditekan secara signifikan.

Lebaran pada hakikatnya adalah momen kebersamaan, bukan kompetisi menyantap hidangan terbanyak.

Menikmati opor ayam satu porsi cukup, mengambil rendang dua potong saja, dan memilih buah sebagai camilan—semua ini adalah bentuk cinta pada diri sendiri dan keluarga.

Seperti disampaikan para dokter di berbagai kesempatan, kesehatan adalah investasi terbesar yang memungkinkan kita menikmati Lebaran bersama orang-orang tercinta, bukan hanya tahun ini, tetapi untuk tahun-tahun mendatang.

"Jika anda lansia bisa juga anda tiba-tiba terjatuh tanpa sebab yang bisa dijelaskan," tulis Kementerian Kesehatan dalam panduan gejala serangan jantung .

Jangan biarkan momen bahagia berubah menjadi duka karena kelengahan.

Selamat menjalani Lebaran 2026. Jaga kesehatan, kendalikan porsi, dan utamakan kebahagiaan yang datang dari kebersamaan—bukan dari seberapa banyak yang masuk ke dalam perut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.