Takut "Mokel", Beberapa Sekolah di Pati Tolak Program MBG Selama Ramadan

JATENG.AKURAT.CO, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang biasanya dibagikan kepada siswa di berbagai daerah mengalami penolakan di sebagian sekolah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Penolakan ini dilakukan selama bulan suci Ramadan dengan alasan utama untuk mencegah siswa tergoda membatalkan puasa atau yang biasa disebut "mokel".
Pada hari-hari biasa, program MBG umumnya dibagikan mulai pagi hingga menjelang adzan dzuhur dengan menu makanan basah seperti nasi dan lauk-pauk lengkap.
Namun selama Ramadan, pihak penyelenggara telah menyesuaikan dengan menyediakan menu makanan kering agar bisa disimpan dan dikonsumsi siswa saat waktu berbuka puasa tiba.
Meski telah ada penyesuaian menu, setidaknya dua yayasan pendidikan di Pati memutuskan untuk menolak pembagian MBG selama bulan Ramadan.
Kedua yayasan tersebut adalah Yayasan Salafiyah Kajen dan Yayasan Al Makruf Hadiwijaya, yang masing-masing mengelola berbagai jenjang pendidikan mulai dari RA (setingkat TK), MI, MTs, MA, hingga SMK.
Ketua Umum Yayasan Salafiyah Kajen, KH Ubaidillah Wahab, mengkonfirmasi bahwa keputusan penolakan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran ibadah puasa siswa-siswinya.
"Kami memang tidak menerima pembagian MBG selama Ramadan guna memastikan ibadah puasa para siswa tidak terganggu. Kami khawatir adanya makanan yang dibagikan bisa membuat mereka tergoda untuk membatalkan puasa," katanya, pada Senin (23/2).
Menurut Kiai Ubaidillah, kebijakan ini berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan yang berada di bawah naungan yayasannya.
Ia juga menyatakan, bahwa pihaknya tidak akan bertanggung jawab jika ada Satuan Pelaksana Penanggung Jawab Gudang (SPPG) yang tetap membagikan MBG ke sekolah mereka tanpa persetujuan.
"Semua tingkatan mulai dari RA hingga MA mengikuti kebijakan ini. Jika ada pihak yang tetap mendistribusikan, itu menjadi urusan mereka sendiri karena kami tidak melakukan kerja sama dengan siapapun terkait program MBG selama Ramadan," jelasnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pembagian MBG pada sore hari menjelang berbuka puasa, Kiai Ubaidillah menyebut hal itu tidak memungkinkan.
Pasalnya, madrasah-madrasah yang dikelolanya sudah mengakhiri kegiatan belajar dan pulang pada siang hari.
"Kami tidak memiliki alternatif lain terkait jadwal pembagian. Madrasah kami berbasis pondok pesantren, jadi jadwal pulangnya tidak sampai sore hari. Yang paling penting bagi kami adalah menjaga kualitas ibadah puasa siswa," ucapnya.
Dengan kebijakan ini, diperkirakan kurang lebih 3 ribu siswa di bawah naungan Yayasan Salafiyah Kajen tidak akan menerima bantuan makanan bergizi gratis selama bulan suci Ramadan tahun ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 5Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 6Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 7Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?









