Zakat dan Kesejahteraan, Perjalanan Baznas yang Miliki Potensi Penyaluran Triliunan Rupiah hingga Aksi Kemanusiaan

JATENG.AKURAT.CO, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) kian menegaskan perannya sebagai pilar penting kesejahteraan sosial nasional.
Hal itu tercermin dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI di Kantor Baznas Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026) yang menyoroti capaian, tantangan, hingga potensi besar zakat di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.
Ketua Baznas Jawa Tengah KH Daroji memaparkan bahwa tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi pengelolaan zakat di provinsi ini.
Total capaian penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Baznas Jateng menembus angka Rp1 triliun, menjadikannya penerimaan zakat terbesar di tingkat provinsi se-Indonesia.
Capaian tersebut didukung penguatan tata kelola, digitalisasi layanan, serta perluasan basis muzaki dari ASN, masyarakat umum, hingga sektor usaha.
Namun demikian, angka tersebut masih jauh dari potensi zakat Jawa Tengah yang diperkirakan mencapai Rp20–25 triliun pertahun.
Artinya, realisasi saat ini baru menyentuh sekitar 4 sampai 5 persen dari potensi yang seharusnya dapat digali.
“Inilah pekerjaan besar yang terus kami dorong bersama Baznas RI dan dukungan DPR,” tegas KH Daroji.
Kemanusiaan dan Ketahanan Sosial
Di sektor kebencanaan, Baznas Jawa Tengah mengoperasikan program Baznas Tanggap Bencana (BTB) dan Baznas Siaga Bencana yang aktif merespons berbagai kejadian banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lain sepanjang 2025.
Tercatat ratusan titik bencana di Jawa Tengah mendapat intervensi bantuan darurat, dengan dukungan ribuan relawan kebencanaan Baznas yang tersebar hingga tingkat kabupaten/kota.
Sementara dalam laporan penyaluran zakat 2025, dana ZIS Baznas Jateng disalurkan ke berbagai bidang strategis, antara lain:
1. Kemanusiaan dan kebencanaan, untuk logistik darurat, hunian sementara, dan pemulihan pascabencana
2. Ekonomi produktif, khususnya penguatan UMKM mustahik agar naik kelas dan mandiri
3. Pendidikan, melalui bantuan madrasah, beasiswa santri dan mahasiswa, serta peningkatan sarana belajar
4. Perumahan, berupa renovasi dan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
5. Kesehatan dan sosial, bagi kelompok rentan dan masyarakat miskin ekstrem
Dari Jawa Tengah untuk Indonesia
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wahid, menyebut Baznas Jawa Tengah sebagai contoh praktik baik pengelolaan zakat nasional.
Salah satu inovasi yang diapresiasi adalah program pengalengan daging kurban, yang memungkinkan distribusi merata dan berkelanjutan kepada penerima manfaat.
“Konsep ini bahkan ditiru oleh Baznas Pusat karena terbukti efektif dan berkeadilan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Baznas telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengeksekusi program-program sosial, terutama yang menyasar masyarakat miskin, pelaku UMKM, lembaga pendidikan keagamaan, hingga perumahan rakyat.
Ke depan, Komisi VIII mendorong penggalian sumber dana baru, khususnya dari korporasi, yang selama ini kontribusi pajaknya dinilai belum optimal bagi kesejahteraan rakyat.
“Kami sedang merancang penguatan skema penghimpunan zakat korporasi, lalu mengolaborasikannya dengan Kementerian Keuangan sebagai layering pajak. Dengan ribuan korporasi yang beroperasi di Indonesia, potensi dampaknya sangat besar,” tegas Abdul Wahid.
Baznas RI dan Visi Zakat sebagai Instrumen Negara
Ketua Umum Baznas RI, Prof. Dr. Noor Ahmad, mengungkapkan bahwa secara nasional, penerimaan zakat Baznas tahun 2025 telah mencapai Rp1,2 triliun.
Capaian ini diiringi dengan pengakuan luas, lebih dari 60 penghargaan nasional dan internasional, serta penilaian transparansi tertinggi dari Komisi Informasi Pusat (KIP) dan apresiasi dari KPK.
“Capaian ini tidak lepas dari dukungan Komisi VIII DPR RI. Kritik yang terus diberikan justru membuat kami tumbuh dan berbenah,” ujar Noor Ahmad.
Ia menambahkan, Baznas kini menjalin kerja sama luas dengan kementerian/lembaga, BUMN, BUMD, swasta, hingga komunitas akar rumput.
Ke depan, Baznas RI menatap peluang besar kolaborasi dengan Kementerian Keuangan untuk menjadikan zakat sebagai instrumen pelengkap kebijakan fiskal.
Jika skema penggantian atau pengurangan pajak melalui zakat dapat diterapkan secara luas, potensi zakat nasional diperkirakan bisa mencapai hingga Rp300 triliun per tahun.
Jalan Panjang Optimalisasi Zakat
Dengan realisasi triliunan rupiah dan potensi ratusan triliun yang belum tergarap, zakat berada di persimpangan penting: antara filantropi keagamaan dan instrumen pembangunan nasional.
Baznas RI dan Jawa Tengah kini berdiri di garda depan, membuktikan bahwa zakat bukan sekadar ibadah individual, melainkan kekuatan kolektif untuk membangun ketahanan sosial, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat kehadiran negara di tengah rakyat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 6Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?










