Jateng

Qualcomm Menang Lawan Arm dalam Sengketa Lisensi, tetapi Ganti Rugi Hanya US$2

Dody H | 15 Oktober 2026, 09:06 WIB
Qualcomm Menang Lawan Arm dalam Sengketa Lisensi, tetapi Ganti Rugi Hanya US$2

JATENG.AKURAT.CO, Qualcomm meraih kemenangan hukum dalam sengketa lisensi teknologi melawan Arm setelah juri federal di Delaware, Amerika Serikat, memutuskan bahwa Arm telah melanggar perjanjian lisensi dengan perusahaan pembuat cip tersebut.

Namun, kemenangan ini diwarnai keputusan yang mengejutkan karena Qualcomm hanya memperoleh ganti rugi sebesar US$2 atau sekitar Rp33.000.

Putusan yang diumumkan pada Kamis tersebut menyatakan Arm melanggar perjanjian lisensi arsitektur atau Architectural License Agreement (ALA) dengan Qualcomm.

Juri juga menyimpulkan bahwa Arm secara tidak sah mengganggu hubungan bisnis Qualcomm dengan Meta Platforms.

Masing-masing dari dua klaim yang dimenangkan Qualcomm menghasilkan ganti rugi sebesar US$1.

Meski nilai kompensasinya sangat kecil, keputusan ini berpotensi memberikan keuntungan strategis bagi Qualcomm dalam perselisihan kontrak yang lebih luas dengan Arm.

Arm Dinilai Melanggar Perjanjian Lisensi Qualcomm

Dalam persidangan selama lima hari, Qualcomm mempermasalahkan tindakan Arm yang diduga menahan pembaruan perangkat lunak (software patches) serta perangkat pengujian cip (chip-testing tools).

Menurut Qualcomm, kedua komponen tersebut dibutuhkan untuk memverifikasi dan mengembangkan inti CPU Oryon, prosesor rancangan khusus yang menjadi bagian penting dari strategi Qualcomm dalam menghadirkan teknologi komputasi berkinerja tinggi.

Qualcomm menilai tindakan Arm bertentangan dengan kewajiban yang telah disepakati melalui perjanjian lisensi arsitektur jangka panjang.

Putusan juri yang menyatakan Arm melanggar perjanjian tersebut menjadi salah satu hasil penting bagi Qualcomm dalam konflik kedua perusahaan.

Qualcomm menyambut keputusan itu dengan menyatakan bahwa Arm telah gagal memenuhi komitmen kontraktualnya dan sengaja melakukan tindakan yang mengganggu kegiatan bisnis Qualcomm.

Perusahaan tersebut juga menegaskan akan terus mengembangkan produk semikonduktor, termasuk CPU Oryon, untuk pelanggan dan konsumen di berbagai negara.

Sengketa Qualcomm dan Arm Juga Menyangkut Meta

Selain persoalan lisensi teknologi, persidangan turut membahas dugaan campur tangan Arm terhadap hubungan komersial Qualcomm dengan Meta Platforms.

Qualcomm mengklaim bahwa kedua perusahaan hampir mencapai kesepakatan bisnis pada 2024.

Namun, menurut Qualcomm, Arm diduga membocorkan informasi kepada Bloomberg News yang menyebut Qualcomm telah melanggar perjanjian lisensi.

Qualcomm menilai pemberitaan tersebut membuat proses negosiasi dengan Meta mengalami penundaan. Persoalan ini kemudian menjadi bagian dari gugatan yang diajukan Qualcomm terhadap Arm.

Juri akhirnya memutuskan bahwa Arm secara tidak sah mengganggu hubungan bisnis Qualcomm dengan Meta.

Putusan tersebut memperkuat posisi Qualcomm dalam memperjuangkan kepentingannya, meskipun nilai ganti rugi yang diberikan hanya US$1 untuk klaim terkait gangguan bisnis tersebut.

Arm Juga Mengklaim Kemenangan dalam Persidangan

Di sisi lain, Arm tidak menganggap putusan tersebut sebagai kekalahan mutlak.

Perusahaan itu menyoroti fakta bahwa juri memutuskan memihak Arm dalam empat klaim yang diajukan selama persidangan.

Arm juga menekankan bahwa total ganti rugi yang harus dibayarkan kepada Qualcomm hanya US$2.

Menurut perusahaan, nilai tersebut menunjukkan bahwa argumen Arm dalam sengketa ini tetap memiliki dasar yang kuat.

Dalam pernyataannya, Arm menyebut Qualcomm berupaya memperoleh miliaran dolar berdasarkan perjanjian lisensi kedua perusahaan.

Namun, hasil persidangan dinilai mengonfirmasi bahwa Arm telah bertindak dengan iktikad baik dalam menjalankan perjanjian lisensi teknologinya.

Perbedaan penafsiran terhadap hasil persidangan ini memperlihatkan bahwa kedua perusahaan masih memiliki kepentingan hukum dan bisnis yang belum terselesaikan.

Qualcomm Berpotensi Menghemat Royalti hingga Miliaran Dolar

Dampak terbesar dari putusan tersebut bukan terletak pada kompensasi US$2, melainkan pada kemungkinan pengaruhnya terhadap proses hukum berikutnya.

Qualcomm tengah memperjuangkan ketentuan kontrak yang memungkinkan perusahaan menghentikan pembayaran royalti kepada Arm selama lima tahun.

Qualcomm berpendapat bahwa pelanggaran perjanjian oleh Arm dapat menjadi dasar hukum untuk menghentikan pembayaran tersebut.

Jika tuntutan itu dikabulkan, nilai royalti yang berpotensi tidak perlu dibayarkan Qualcomm diperkirakan mencapai miliaran dolar AS.

Arm, sebaliknya, menolak penafsiran tersebut dan berpendapat bahwa penghentian pembayaran royalti selama lima tahun tidak dapat diberlakukan berdasarkan perjanjian yang berlaku.

Perselisihan mengenai kewajiban royalti itu masih menjadi persoalan utama yang perlu diselesaikan dalam tahapan proses pengadilan selanjutnya di bawah pengawasan Hakim Distrik AS Maryellen Noreika.

Karena itu, kemenangan Qualcomm dalam dua klaim tidak serta-merta berarti perusahaan tersebut telah memperoleh hak untuk menghentikan pembayaran royalti.

Keputusan mengenai persoalan kontrak tersebut masih akan bergantung pada proses hukum berikutnya.

Hubungan Qualcomm dan Arm Semakin Memanas

Konflik hukum ini merupakan bagian dari memburuknya hubungan antara dua perusahaan besar di industri semikonduktor.

Hubungan Qualcomm dan Arm semakin tegang setelah SoftBank mengakuisisi Arm pada 2016 dan perusahaan tersebut memperluas aktivitasnya ke pengembangan cip sendiri.

Arm selama ini dikenal sebagai penyedia arsitektur dan teknologi prosesor yang digunakan oleh berbagai perusahaan semikonduktor.

Sementara itu, Qualcomm memanfaatkan teknologi Arm dalam pengembangan sejumlah produknya, termasuk prosesor untuk ponsel pintar dan perangkat komputasi.

Ketika kepentingan bisnis kedua perusahaan semakin berkembang, perbedaan mengenai hak lisensi, kewajiban kontrak, dan persaingan di pasar cip menjadi semakin penting.

Bagi Qualcomm, kemampuan mempertahankan akses terhadap teknologi dan mengembangkan CPU Oryon merupakan bagian dari strategi jangka panjangnya.

Sementara bagi Arm, perlindungan terhadap model bisnis lisensi teknologi menjadi kepentingan utama.

Reaksi pasar terhadap putusan tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan investor.

Saham Arm dilaporkan turun sekitar 1%, sedangkan saham Qualcomm naik sekitar 2% setelah keputusan diumumkan.

Pada akhirnya, putusan juri ini menjadi perkembangan penting dalam sengketa Qualcomm melawan Arm.

Qualcomm memang hanya memperoleh kompensasi US$2, tetapi hasil tersebut dapat menjadi modal dalam memperjuangkan tuntutan yang berpotensi bernilai miliaran dolar.

Tahap berikutnya akan menentukan apakah Qualcomm benar-benar dapat memperoleh keringanan kewajiban royalti atau apakah Arm berhasil mempertahankan haknya berdasarkan perjanjian lisensi yang dipersoalkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.