Jateng

Booming AI Picu Lonjakan Harga Memori, HP Murah Terancam Menghilang dari Pasaran

Dody H | 13 Juli 2026, 08:58 WIB
Booming AI Picu Lonjakan Harga Memori, HP Murah Terancam Menghilang dari Pasaran
ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat ternyata membawa dampak besar bagi industri smartphone.

Tidak hanya mendorong inovasi perangkat, ledakan kebutuhan AI juga menyebabkan lonjakan harga komponen memori yang berpotensi membuat ponsel murah semakin sulit ditemukan di pasaran.

Laporan terbaru dari firma riset pasar Omdia mengungkapkan, bahwa meningkatnya permintaan RAM dan penyimpanan untuk kebutuhan pusat data AI telah membuat harga memori melonjak tajam.

Kondisi ini memberi tekanan besar kepada produsen smartphone, terutama untuk perangkat entry-level dan kelas menengah yang selama ini mengandalkan harga terjangkau sebagai daya tarik utama.

Menurut data Omdia, porsi biaya memori dalam struktur biaya produksi smartphone mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Pada kuartal ketiga 2025, komponen memori menyumbang sekitar 32 persen dari total biaya produksi ponsel dengan rentang harga 200 hingga 400 dolar AS atau sekitar Rp3,6 juta hingga Rp7,2 juta.

Namun memasuki kuartal pertama 2026, kontribusi biaya memori melonjak hingga 59 persen.

Kenaikan serupa juga terjadi pada smartphone dengan harga 100 hingga 200 dolar AS, di mana memori kini menyerap sekitar 59 persen dari total biaya produksi perangkat.

Situasi yang lebih ekstrem terjadi pada segmen ponsel paling murah dengan harga di bawah 100 dolar AS atau sekitar Rp1 jutaan.

Di kelas ini, biaya memori bahkan mencapai 64 persen dari total komponen yang digunakan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa memori kini menjadi komponen paling mahal dalam smartphone murah, mengalahkan berbagai komponen penting lainnya seperti layar, kamera, hingga chipset.

Lonjakan biaya produksi membuat produsen menghadapi dilema besar. Jika harga jual tidak dinaikkan, margin keuntungan akan tergerus.

Sebaliknya, kenaikan harga dapat membuat daya beli konsumen menurun.

Omdia memperkirakan pengiriman smartphone dengan harga di bawah 400 dolar AS akan mengalami penurunan hingga 22 persen.

Dampaknya tidak hanya dirasakan segmen murah, tetapi juga pasar smartphone secara keseluruhan yang diprediksi turun sekitar 12 persen secara tahunan sepanjang 2026.

Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar smartphone sedang memasuki fase baru, di mana perangkat murah akan semakin sulit bersaing akibat biaya produksi yang terus meningkat.

Seiring meningkatnya tekanan di segmen bawah, banyak produsen diperkirakan akan mengalihkan fokus mereka ke perangkat kelas menengah atas dan premium yang menawarkan margin keuntungan lebih besar.

Pasar smartphone dengan harga di atas 400 dolar AS atau sekitar Rp7,2 juta justru diproyeksikan tumbuh sekitar 5,7 persen pada 2026.

Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa faktor utama.

Pertama, banyak vendor mulai memprioritaskan pengembangan produk premium dibandingkan perangkat entry-level.

Kedua, kenaikan harga rata-rata smartphone secara global membuat porsi perangkat mahal semakin besar.

Ketiga, konsumen kelas premium cenderung tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan harga sehingga permintaan tetap terjaga.

Analis Utama Omdia, Zaker Li, menilai tekanan harga memori kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.

Kondisi ini memaksa produsen seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor untuk mencari strategi agar profitabilitas tetap terjaga.

Salah satu langkah yang paling mungkin dilakukan adalah menaikkan harga jual perangkat, terutama untuk smartphone kelas bawah yang memiliki margin keuntungan tipis.

Selain itu, vendor juga berpotensi melakukan penyesuaian spesifikasi pada perangkat baru.

Beberapa strategi yang diperkirakan muncul antara lain mengganti panel layar LTPO OLED dengan LTPS OLED yang lebih murah, menggunakan sensor kamera berukuran lebih kecil, hingga mengurangi jumlah kamera.

Tidak hanya itu, penggunaan chipset generasi sebelumnya juga bisa menjadi solusi untuk menekan biaya produksi, khususnya pada smartphone kelas menengah dan premium yang selama ini mengandalkan prosesor terbaru.

Meski seluruh proyeksi tersebut masih berupa prediksi berdasarkan kondisi pasar saat ini, satu hal yang hampir pasti adalah harga smartphone berpotensi terus meningkat seiring melonjaknya biaya komponen memori.

Ledakan industri AI yang mendorong kebutuhan RAM dan penyimpanan dalam jumlah besar telah menciptakan efek domino bagi pasar perangkat mobile.

Jika tren ini berlanjut, konsumen kemungkinan harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk mendapatkan smartphone baru dengan spesifikasi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dengan kata lain, era HP murah dengan spesifikasi tinggi mungkin akan semakin sulit ditemukan di masa mendatang, karena industri smartphone kini menghadapi tantangan baru akibat booming teknologi AI.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
Reporter
Dody H
Arixc Ardana