Sejarah Perjalanan Mohammad Hatta dan Peran Jong Sumatranen Bond dalam Merintis Perubahan di Masyarakat

AKURAT.CO Sejarah, Pada akhir Desember 1919, di Batavia, Jong Sumatranen Bond (JSB) menggelar sidang tahunan untuk memilih pengurus besar yang baru.
Dalam kongres tersebut, Amir Sjarifuddin terpilih sebagai ketua umum, dengan Bahder Djohan sebagai sekretaris, dan Mohammad Hatta sebagai bendahara.
Kepengurusan ini kemudian fokus memperkuat posisi JSB melalui penerbitan kembali majalah Jong Sumatra.
Baca Juga: Jejak Sejarah di Jembatan Mberok: Menelusuri Kisah Kota Lama Semarang
Namun, sorotan masyarakat terhadap JSB muncul ketika majalah tersebut mengulas kritik terhadap adat istiadat Minangkabau, khususnya terkait sebuah peristiwa perkawinan kontroversial.
Tulisan seorang pemuda JSB asal Sumatra Barat menyoroti perkawinan gadis Koto Gadang dengan seorang pemuda Jawa Tengah yang menghebohkan Tanah Minang.
Hatta, yang menjadi bagian dari redaksi JSB, menyampaikan pandangan bahwa adat istiadat Koto Gadang terlalu mengikat sisi perempuan, sementara laki-laki dibebaskan.
Baca Juga: Perjalanan Gereja Santo Yusuf Gedangan: Menjadi Saksi Bisu Sejarah Perkembangan Kota Semarang
Meskipun tujuannya adalah memperjuangkan perubahan untuk kebaikan, artikel ini mendapat protes dari sejumlah pemuda yang membela adat istiadat Koto Gadang.
Protes tersebut mengakibatkan kekhawatiran akan munculnya kegaduhan di kalangan pemuda Minang.
Sebagai respons, redaksi JSB memutuskan untuk membatasi akses pembaca terhadap tulisan tersebut dengan menempelkan halaman tersebut menggunakan lem.
Meskipun kontroversial, tindakan ini diambil agar tidak menimbulkan persengketaan yang lebih besar di kalangan pemuda Minang.
Keberanian JSB, termasuk Hatta, dalam menghadapi ketidaksetujuan dan perubahan sosial, mencerminkan semangat kaum intelektual di ranah Minang.
Meski konflik terjadi, perubahan lambat-lambat mulai terwujud, terutama pada adat perkawinan di Koto Gadang.
Hatta melaporkan bahwa sekitar tahun 1930-an, adat perkawinan di sana mulai melonggar, berkat dorongan dari tokoh seperti Haji Agus Salim.
Cinta Hatta terhadap kemerdekaan Indonesia dan keyakinannya bahwa perubahan harus terjadi ketika suatu kebiasaan membawa keburukan, menjadikan perannya dalam JSB sebagai bagian dari gerakan perubahan di ranah sosial dan budaya Minangkabau.
Meskipun kontroversial pada masanya, upaya JSB, dengan Amir Sjarifuddin sebagai salah satu tokohnya, memberikan kontribusi pada perubahan positif dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Tanda Bansos Kamu Sudah Diterima dan Siap Diambil! Lakukan Cek dengan 3 Cara Mudah Ini
- 5Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 6Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 7Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 8Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 9Gagal Move On, Manchester United Siap Bajak Elliot Anderson dari Bawah Hidung City
- 10Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'






