Jateng

Bukan untuk Kemarahan, tapi Kebahagiaan: Sains Ungkap Manfaat Psikologis Musik Metal

Theo Adi Pratama | 4 Maret 2026, 14:23 WIB
Bukan untuk Kemarahan, tapi Kebahagiaan: Sains Ungkap Manfaat Psikologis Musik Metal
Ilustrasi musik metal

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda melihat seseorang dengan kaus bergambar band death metal, rambut panjang terurai, dan telinga dipenuhi piercing, lalu tanpa sadar memberi label "keras" atau "berbahaya" pada dirinya? Masyarakat luas selama ini memang kerap terjebak dalam stereotip semacam itu.

Musik metal dengan distorsi gitar yang menggelegar, vokal bergrowl yang terdengar seperti amukan, serta lirik bertema gelap sering kali dipersepsikan sebagai pemicu agresi atau bahkan kekerasan.

Para penggemarnya pun tak luput dari cap negatif—dianggap garang, anti-sosial, atau memiliki kecenderungan destruktif. Namun, bayangkan jika semua anggapan itu ternyata keliru.

Bagaimana jika di balik hingar-bingar suara yang tampak "brutal" tersebut, justru tersembunyi efek terapeutik yang mampu menenangkan jiwa?

Sejumlah penelitian terkini dari berbagai universitas terkemuka di Australia membongkar mitos lama ini dan mengungkap fakta mengejutkan: musik metal, termasuk subgenre ekstrem seperti death metal dan screamo, ternyata dapat membawa kebahagiaan, ketenangan, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis pendengarnya.

Temuan ini tidak hanya mengguncang stereotip yang sudah mengakar, tetapi juga membuka mata kita bahwa musik—dalam bentuk apa pun—memiliki kekuatan emosional yang jauh lebih kompleks dari sekadar apa yang tampak di permukaan.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Telinga! Data CKG 2025-2026 Tunjukkan Peningkatan Kasus Gangguan Pendengaran

Musik Ekstrem dan Pengaruhnya pada Emosi Positif

Sebuah penelitian inovatif dari University of Queensland, Australia, yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience, berhasil membalikkan pandangan konvensional tentang musik ekstrem.

Studi ini mengungkap bahwa genre seperti metal, emo, punk, hardcore, dan screamo justru dapat membantu pendengarnya mengelola kemarahan dan menumbuhkan emosi positif.

Dikutip dari National Geographic Indonesia, penelitian ini melibatkan 39 partisipan berusia 18 hingga 34 tahun yang merupakan pendengar aktif musik ekstrem.

Para peneliti sengaja menginduksi kemarahan pada partisipan dengan meminta mereka berbicara selama 16 menit tentang topik-topik pribadi yang memicu emosi negatif—mulai dari hubungan rumit, masalah keuangan, hingga tekanan pekerjaan.

Setelah itu, mereka diberikan dua perlakuan berbeda: mendengarkan musik pilihan dari genre ekstrem selama 10 menit, atau duduk dalam keheningan selama waktu yang sama.

Hasilnya sungguh di luar dugaan. Mendengarkan musik ekstrem ternyata sama efektifnya dengan berdiam diri dalam keheningan. Keduanya sama-sama menciptakan rasa tenang.

Bahkan, sebagian partisipan melaporkan bahwa mereka merasa lebih baik setelah mendengarkan musik dibandingkan saat mereka duduk diam tanpa suara apapun.

"Ketika sedang marah, penggemar musik ekstrem cenderung memilih lagu yang mencerminkan kemarahan mereka. Bukan untuk memperburuknya, tetapi justru untuk menyalurkannya," ungkap Leah Sharman, peneliti utama dalam studi tersebut.

Menariknya, lagu-lagu yang dipilih para partisipan tidak selalu bertema agresi. Banyak di antaranya justru mengangkat tema isolasi dan kesedihan.

Ini menunjukkan bahwa para penggemar secara naluriah mencari validasi emosional melalui musik.

Mereka ingin merasa dipahami, dan dari sanalah kebahagiaan itu kemudian muncul.

Musik ekstrem bertindak sebagai katarsis—semacam pelepasan emosi negatif yang membawa pada kedamaian batin.

Death Metal: Dari Brutal Menjadi Damai

Lalu, bagaimana dengan death metal? Subgenre yang satu ini mungkin paling sering mendapat cap "brutal" dan "menyeramkan" dibandingkan genre ekstrem lainnya.

Namun, penelitian dari Universitas MacQuarie, seperti dikutip dari Loudersound.com, justru menemukan fakta sebaliknya.

Dalam studi ini, para peneliti menggunakan lagu "Eaten" dari band death metal Swedia, Bloodbath—sebuah lagu yang bagi telinga awam mungkin terdengar sangat agresif.

Sebanyak 80 peserta diuji reaksi emosionalnya, dengan separuh di antaranya adalah penggemar death metal dan sisanya bukan.

Hasilnya memperlihatkan kontras yang tajam. Para pendengar yang bukan penggemar death metal merespons lagu tersebut dengan perasaan tegang, marah, dan takut.

Sebaliknya, para penggemar justru merasakan kedamaian, kekuatan, sukacita, bahkan keajaiban saat mendengarkan lagu yang sama.

Profesor Bill Thompson, yang memimpin studi ini, menegaskan bahwa penggemar death metal adalah individu-individu yang secara psikologis sehat dan penuh empati.

Mereka tidak menikmati musik tersebut karena konten kekerasannya, melainkan karena efek emosional mendalam yang mereka rasakan setelah mendengarkannya.

"Penggemar musik death metal yang fanatik mendapatkan kekuatan, kegembiraan, dan kedamaian saat mendengarkan musik ini," ujar Thompson.

Ia juga menambahkan bahwa, seperti halnya orang yang menikmati lagu-lagu sedih, penggemar metal pun mencari kontras emosional dalam musik mereka.

Tujuannya bukan untuk menciptakan kekacauan, melainkan untuk meresapi dan memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Penelitian ini sekaligus membantah persepsi keliru yang sudah lama beredar bahwa lirik kekerasan dalam musik metal dapat menginspirasi tindak kekerasan di dunia nyata.

"Yang tidak menggemari death metal bisa dimengerti jika merasa terganggu oleh lirik bertema kekerasan. Tapi bagi penggemarnya, musik ini adalah bentuk pelampiasan dan representasi batin yang justru membawa kedamaian," tambah Thompson dalam kolomnya di The Conversation.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.