Jateng

JANGAN KAGET! 10 PERBEDAAN TERGILA ALICE IN BORDERLAND VERSI NETFLIX VS MANGA: Ternyata Sosok ARISU Aslinya Lebih Egois dan Penuh Dosa!

Theo Adi Pratama | 3 Oktober 2025, 12:33 WIB
JANGAN KAGET! 10 PERBEDAAN TERGILA ALICE IN BORDERLAND VERSI NETFLIX VS MANGA: Ternyata Sosok ARISU Aslinya Lebih Egois dan Penuh Dosa!

JATENG.AKURAT.CO, Siapa yang tidak kenal dengan Alice in Borderland? Serial live-action Netflix dari Jepang ini sukses besar, mempopulerkan konsep survival game yang kejam di tengah Tokyo yang sepi.

Jutaan penonton di seluruh dunia dibuat menahan napas menyaksikan Arisu dan Usagi berjuang melewati permainan Kartu Angka yang mematikan.

Namun, tahukah Anda bahwa popularitas global ini bermula dari tinta seorang mangaka jenius bernama Haro Aso? Manga Alice in Borderland adalah sumber aslinya, sebuah karya sureal dan brutal yang menantang batas-batas fisik dan psikologis.

Meskipun Netflix berhasil menangkap esensi sinematik dari dunia Borderland, para showrunner tak ragu mengambil "lisensi kreatif" besar-besaran. Perubahan-perubahan ini tidak hanya memengaruhi alur cerita, tetapi juga mengubah inti emosional, kedewasaan karakter, hingga representasi sosial!

Penasaran seberapa jauh Arisu dan kawan-kawan di Netflix menyimpang dari versi komik? Bersiaplah, karena kami akan membedah 10 perbedaan masif antara Manga vs. Show yang akan membuat Anda melihat Borderland dari sudut pandang yang sama sekali baru!

1. Perbedaan Karakter Utama: Arisu Si Loser yang Lebih Mentah vs. Pahlawan Gamer yang Matang

Karakter Ryōhei Arisu adalah inti dari cerita, tetapi kepribadiannya di dua media ini sangat berbeda, dipengaruhi oleh perbedaan usia yang signifikan.

Arisu Versi Manga: Mentah, Egois, dan Siswa SMA
Dalam manga, Arisu memulai sebagai sosok yang lebih mentah secara emosional dan tidak yakin dengan dirinya sendiri. Ia adalah seorang siswa SMA, yang secara alami, membuatnya jauh lebih reaktif dan labil dalam menghadapi trauma. 

Keunggulan analitisnya di manga tidak semata-mata dikaitkan dengan statusnya sebagai gamer dewa—ia memang terlahir sangat observatif.

Manga Arisu, setidaknya di awal, lebih egois dan diliputi syok serta dilema moral. Hal ini terlihat jelas dalam Game Seven of Hearts (Permainan Tujuh Hati) yang digambarkan jauh lebih brutal di manga.

Alih-alih mencari cara untuk menyelamatkan semua orang, pikiran Arisu lebih berfokus ke dalam, mencari alasan mengapa dia harus bertahan dibandingkan teman-temannya. Ia bahkan tidak berhasil menyelamatkan Shota dan Karube, hanya menyaksikan ledakan kematian mereka dari jauh. Reaksi awal Arisu versi manga adalah kemarahan membunuh dan rasa hancur yang lebih mendalam.

Arisu Versi Netflix: Heroik, Lebih Tenang, dan Usia 20-an
Sebaliknya, Arisu di serial TV sudah berusia 20-an, menjadikannya lebih dewasa secara psikologis. Netflix secara eksplisit fokus pada latar belakang gaming-nya untuk menjelaskan keterampilan taktis dan analitisnya.

Setelah kematian teman-temannya, Arisu versi TV hampir segera mengambil peran heroik. Ia jauh lebih berbelas kasih, tenang, dan mampu mengendalikan emosi. Ia aktif mengambil risiko, membentuk aliansi, dan membuat keputusan untuk memastikan keselamatan orang lain, bukan hanya dirinya sendiri.

Intinya: Manga menggunakan Borderland untuk mengembangkan karakter Arisu dari sosok yang egois menjadi penuh belas kasih. Sedangkan show menggunakan Borderland sebagai panggung tontonan, karena karakter Arisu sudah "matang" sejak awal. 

2. Latar Belakang Usagi: Dari Beban Trauma Ayah hingga Kekuatan Empowerment

Yuzuha Usagi, sang atlet mountaineering, memiliki latar belakang yang sama-sama tragis di kedua versi, tetapi dampaknya berbeda.

Usagi Versi Manga: Luka Eksistensial Mendalam
Di manga, identitas Usagi dibentuk oleh kedukaan mendalam akibat kematian ayahnya. Ayahnya, seorang pendaki gunung yang sangat dihormati, dituduh memalsukan pendakiannya ke salah satu gunung paling sulit di dunia. Karena kesulitan luar biasa dari pencapaian tersebut, rekan-rekan dan publik menolak mengakui keasliannya.

Tekanan sosial dan pelecehan publik ini memuncak, menyebabkan properti mereka dirusak, hingga akhirnya sang ayah bunuh diri, meninggalkan Usagi muda sendirian.

Trauma ini mewarnai seluruh pandangan dunianya. Ia membawa kesedihan mendalam, tidak memercayai orang banyak, dan sangat berhati-hati dalam menjalin hubungan—sebuah beban yang terus membayangi.

Usagi Versi Netflix: Katalisator untuk Bertindak
Netflix menyajikan latar belakang Usagi dengan cara yang lebih ringkas. Meskipun tuduhan penipuan dan rasa malu itu tetap ada, serial ini lebih menonjolkan momen di mana Usagi memiliki visi atau mimpi tentang ayahnya di Borderland.

Momen-momen ini secara simbolis membantunya berdamai dengan masa lalu dan memberinya kekuatan emosional. Trauma di sini bertindak sebagai katalisator yang membuatnya lebih aktif daripada reaktif. Keterampilan mountaineering-nya bukan sekadar dekorasi, melainkan aset berharga yang membuatnya lebih berani mengambil risiko. Trauma versi Netflix adalah sumber pemberdayaan (empowerment).

3. Chishiya dan Peran Karakter Sampingan: Manipulator Dingin vs. Sekutu Bernuansa

Chishiya: Dari Kekosongan Moral ke Konflik Internal
Shuntarō Chishiya adalah karakter yang paling banyak mengalami nuansa berbeda.

Manga: Chishiya digambarkan jauh lebih dingin dan terpisah. Ia seorang mahasiswa kedokteran yang dipaksa ayahnya memprioritaskan pasien transplantasi yang dianggap "penting" saja. Latar belakang ini membuatnya hampa secara moral dan emosional.

Netflix: Chishiya tetap mahasiswa kedokteran di lingkungan serupa, tetapi karakternya jauh lebih bernuansa. Serial ini menyoroti konflik internal, penyesalan, dan keraguan diri yang terlihat jelas. Perubahan ini secara signifikan meningkatkan dampak busur penebusannya. Ia bertransisi dari sekadar manipulator arketipal menjadi sekutu yang enggan/pahlawan potensial dengan momen-momen yang lebih "lunak." 

Kuina: Identitas yang Ditegaskan
Hikari Kuina, karakter wanita transgender yang sangat disukai, juga mendapat penanganan berbeda.

Manga: Perjalanan identitas Kuina, seperti tekanan orang tua dan transisinya, disiratkan secara lebih implisit.

Netflix: Serial ini menjadikan perjuangan identitas dan kepergiannya dari rumah sebagai fokus utama. Dukungan ibunya sangat ditekankan. Secara umum, Kuina menerima lebih banyak waktu layar untuk mengembangkan busur identitasnya.

Perbedaan ini berlaku untuk semua karakter sampingan: mereka menerima lebih banyak agensi dan busur emosional di serial TV.

4. Game dan Kekejaman: Dari Kuis Berdarah ke Aksi Sci-Fi Instan

Netflix melakukan penyesuaian besar-besaran pada aturan permainan untuk menjadikannya lebih mudah dipahami dan lebih menarik secara visual bagi penonton global.

Aturan Permainan yang Disederhanakan
Manga: Permainan Kartu Wajah (Face Card Games) digambarkan sangat kompleks dengan aturan yang sulit divisualisasikan tanpa narasi yang panjang. Brutalitas dan sifat permainan yang tidak kenal ampun lebih ditekankan.

Netflix: Permainan dirampingkan dengan meredam intensitas brutalitas dan menyederhanakan teka-teki. Visual dibuat lebih jelas agar penonton dapat langsung memahami apa yang terjadi.

Contoh Nyata: Perubahan Game Tiga Keriting (Three of Clubs)
Manga: Game ini adalah kuis berbasis trivia dengan panah api yang menunjukkan tingkat keparahan jawaban yang salah.

Netflix: Game ini diubah total menjadi permainan melarikan diri/pilihan pintu, di mana memilih pintu yang salah akan berakibat kematian instan oleh laser.

Perubahan ini mengubah nuansa intelektual manga menjadi aksi yang lebih mendebarkan dan instan (visceral) di layar kaca, meskipun akurasinya terhadap manga sedikit berkurang.

Kekerasan dan Konten Dewasa yang "Dilembutkan"
Untuk meraih penonton yang lebih luas, Netflix sengaja mengurangi konten yang terlalu gritty (kasar) dan dewasa.

Manga: Penuh kekerasan grafis dan gore, menampilkan cedera mengerikan, penderitaan yang sangat nyata, dan kengerian psikologis ekstrem, termasuk paranoia, keputusasaan, dan manipulasi seksual (terutama oleh Shibuki terhadap Chōta). 

Netflix: Elemen gelap dipertahankan, tetapi kekejaman dileburkan. Monolog internal paling gelap diganti dengan isyarat visual untuk melembutkan suasana asli. Bagian paling signifikan: manipulasi seksual dihilangkan seluruhnya demi alasan aksesibilitas penonton yang lebih luas. 

5. Representasi LGBTQ+ Kuina: Lebih Terlihat, Lebih Kuat

Meskipun Kuina merupakan karakter trans di kedua versi, serial Netflix memberi porsi yang jauh lebih besar pada identitasnya.

Netflix mengalokasikan lebih banyak waktu layar untuk mengembangkan busur identitasnya, menyoroti karakternya yang kompleks, mulai dari keterampilan bela diri hingga konflik moral.

Kuina tidak direduksi menjadi "token" atau korban. Sebaliknya, identitasnya diintegrasikan ke dalam kekuatannya, menjadi motivasi mengapa ia berjuang untuk kembali kepada ibunya yang sakit. Hal ini menjadikannya salah satu representasi komunitas LGBTQ+ yang paling kuat dan memberdayakan.

6. Sifat Borderland: Purgatorium Metodologis vs. Misteri Penuh Risiko

Manga memberikan petunjuk yang lebih kuat dan mendalam mengenai sifat alamiah Borderland.

Manga: Ruang Liminal dan Penyucian Spiritual
Manga dengan kuat mengisyaratkan Borderland sebagai ruang liminal—semacam purgatorium antara hidup dan mati. Orang-orang yang masuk adalah mereka yang kesadarannya terlepas karena hidupnya terancam di dunia nyata. 

Permainan di manga memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar bertahan hidup. Mereka dirancang untuk menguji kemauan dan karakter, memaksa orang menghadapi penyesalan, rasa bersalah, dan isu identitas yang belum terselesaikan. Bertahan hidup adalah tentang pemurnian spiritual (spiritual purification). 

Netflix: Misteri yang Diperpanjang
Serial TV mempertahankan sifat misterius dari Borderland. Meskipun konsepnya disinggung, fokusnya adalah pada aksi dan ketegangan. Pertanyaan "apa itu Borderland?" menjadi misteri yang dieksplorasi lebih lanjut.

7. Kartu Joker: Ferryman Simbolis vs. Cliffhanger Ancaman Baru

Manga: Kartu Joker di manga digambarkan sebagai pengemudi perahu (ferryman), yang bertanggung jawab mengangkut jiwa orang mati. Ia adalah konsep puitis yang menawarkan pilihan untuk tetap tinggal atau kembali ke dunia nyata.

Netflix: Akhir Musim 2 meninggalkan cliffhanger dengan munculnya Joker, memicu spekulasi bahwa ia akan menjadi antagonis utama baru. Di Musim 3, show mengeksplorasi Joker sebagai konsep yang lebih ambigu dan campur tangan, mampu membunuh tanpa melanggar aturan, dan mewujudkan ide bahwa hidup itu tidak terduga.

8. Gaya Visual: Minimalis Horor vs. Sensory Overload CGI Spektakuler

Perbedaan media adalah alasan terbesar di balik perubahan visual.

Manga: Mengandalkan desain minimalis untuk membangkitkan kengerian dan kegelisahan (dread and unease).

Netflix: Memilih rute yang kaya sensorik dan visual. Penggunaan set piece skala besar, CGI mutakhir (seperti Shibuya crossing yang kosong), pencahayaan dramatis, dan koreografi kamera dinamis menghasilkan atmosfer yang lebih nyata dan intens (visceral). Contohnya, adegan Arisu melihat Tokyo yang kosong difilmkan dalam satu long continuous take untuk menekankan skala kehampaan. 

9. Reaksi Kritis: Acuan Awal vs. Kontroversi Musim 3

Dua musim pertama Alice in Borderland mendapat pujian luas dari penggemar manga dan penonton baru karena dianggap setia pada semangat dan niat Haro Aso. 

Namun, segalanya berubah dengan Musim 3.

Musim 3 memasuki wilayah yang belum dipetakan (uncharted territory), menciptakan konten orisinal yang tidak ada dalam manga. 

Keputusan ini memicu reaksi beragam dan kontroversi. Beberapa penggemar memuji keberanian mengambil risiko, tetapi banyak yang mengkritik keputusan karakter yang terasa dipaksakan (terutama Usagi) dan Arisu yang dianggap kurang cerdas dan lebih mengandalkan keberuntungan (plot armor) daripada pemecahan masalah. 

Hal ini tercermin dalam skor kritikus yang menurun drastis: 91% (S2) turun menjadi 60% (S3) di Rotten Tomatoes. Para kritikus dan penggemar merasa "keajaiban" adaptasi yang ketat di awal telah hilang.

10. Kontemplasi vs. Katarsis: Perbedaan Inti Antar Media

Pada akhirnya, meskipun kedua versi menjelajahi tema psikologis yang sama—bertahan hidup, penyesalan, dan penebusan—cara tema itu disampaikan berbeda fundamental.

Manga: Bersandar pada kompleksitas internal. Rasa bersalah adalah beban introspektif yang panjang, dan penebusan seringkali ambigu secara moral. Manga mengundang perenungan (contemplation) dari pembaca.

Netflix: Eksternalisasi tema-tema emosional ini. Rasa bersalah digambarkan secara mentah dan performatif. Penebusan lebih erat kaitannya dengan aksi, hubungan, dan resolusi naratif yang jelas. Serial live-action membangkitkan katarsis (catharsis) pada penonton.

Perbedaan media ini menunjukkan bahwa Alice in Borderland dapat menjadi cerita yang sama, tetapi pengalaman yang kita rasakan sangatlah kontras, mengubah cara kita memahami penderitaan dan harapan di dunia Borderland.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.