Jateng

Era Baru Belanja Online 2026, Deretan Brand Besar Gulung Tikar Gerai Fisik

Theo Adi Pratama | 10 April 2026, 10:53 WIB
Era Baru Belanja Online 2026, Deretan Brand Besar Gulung Tikar Gerai Fisik

JATENG.AKURAT.CO, Tahun 2026 menjadi babak baru dalam dunia ritel global.

Gelombang penutupan gerai fisik yang dimulai sejak pandemi Covid-19 kini semakin masif, menandai era baru di mana belanja online bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pilihan utama.

Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, mulai dari platform berita hingga portal analisis keuangan, setidaknya 1.200 gerai di AS saja telah diumumkan akan tutup pada tahun ini, dengan estimasi total mencapai hampir 7.900 lokasi di seluruh negeri.

Angka ini adalah cerminan dari perubahan fundamental perilaku konsumen yang semakin berorientasi pada nilai, lebih banyak berbelanja secara daring, dan kurang loyal terhadap toko fisik.

Tak hanya itu, kenaikan biaya operasional serta persaingan ketat dari merek lokal juga menjadi pemicu.

Mulai dari raksasa fesyen cepat hingga gerai pizza legendaris, semua merasakan dampaknya. Lantas, brand-brand dunia mana saja yang harus merelakan gerainya tutup di tahun 2026, dan apa yang melatarbelakangi keputusan dramatis ini? Simak daftar lengkapnya berikut ini.

Baca Juga: H&M Tutup 160 Gerai di 2026 dan Buka 80 Gerai Baru di Pasar Berkembang, Langkah Restrukturisasi di Tengah Perubahan Perilaku Konsumen

H&M: Banting Setir ke Ranah Digital

Raksasa fesyen asal Swedia, H&M, mengumumkan akan menutup 160 tokonya secara global pada 2026.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari strategi mereka untuk memprioritaskan e-commerce dan mengoptimalkan toko-toko unggulan yang paling menguntungkan.

Sebelumnya, H&M telah menutup 163 lokasi karena alasan serupa.

Optimalisasi portofolio ini memang berdampak pada penurunan laba di kuartal I-2026, tetapi perusahaan memproyeksikan efek positif sepanjang tahun.

Saat ini, belanja online telah menyumbang 30 persen dari total pendapatan H&M, menunjukkan bahwa pergeseran fokus ke dunia digital adalah keniscayaan.

Para ahli menilai langkah H&M ini sebagai bagian dari tren industri yang tak terelakkan.

CEO Retail Tech Media Nexus, Dominick Miserandino, mengatakan bahwa pembeli kini lebih berorientasi pada nilai dan kurang loyal terhadap toko fisik tradisional.

Guess: Angkat Koper dari China

Merek denim asal Amerika Serikat, Guess, mengambil keputusan mengejutkan dengan menutup seluruh toko fisik dan daringnya di China daratan pada akhir Maret 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari perombakan model bisnis di tengah mundurnya sejumlah peritel fesyen global dari pasar tersebut.

Keputusan ini dipicu oleh berbagai tantangan yang dihadapi merek asing di China, mulai dari lemahnya lokalisasi hingga lambatnya respons terhadap perubahan tren konsumen yang sangat cepat.

Sejumlah merek global lain seperti Old Navy, Topshop, dan beberapa label milik Inditex telah lebih dulu hengkang.

Guess pertama kali masuk ke China pada 2007 dan sempat mengoperasikan sekitar 250 toko pada puncaknya di 2019.

Namun, persaingan dari merek lokal yang lebih gesit dan pergeseran belanja ke platform daring seperti live streaming dan social commerce membuat posisinya semakin tergerus.

Innisfree: Fokus Penuh pada Dunia Maya

Merek perawatan kulit asal Korea Selatan, Innisfree, resmi menutup seluruh gerai fisiknya di Indonesia pada 2026.

Namun, jangan khawatir, mereka tidak meninggalkan pasar Tanah Air.

Langkah ini adalah bagian dari strategi untuk memperkuat kanal digital dan fokus pada penjualan melalui platform e-commerce, aplikasi, serta mitra resmi seperti Sociolla dan Watson.

Marketing Manager Innisfree Indonesia, Angeline Tjoea, menegaskan bahwa penutupan gerai fisik bukan berarti meninggalkan pasar.

Justru, mereka sedang memperkuat fondasi bisnis dengan fokus pada pengembangan infrastruktur digital agar dapat melayani konsumen secara lebih optimal.

Transformasi digital ini memungkinkan Innisfree menghadirkan pengalaman belanja yang lebih personal, mulai dari rekomendasi produk berbasis data hingga edukasi perawatan kulit secara daring.

Mereka juga menghadirkan berbagai promo eksklusif yang hanya tersedia secara online.

Pizza Hut: Restrukturisasi di Bawah Program Hut Forward

Pizza Hut mengumumkan akan menutup 250 gerainya yang berkinerja rendah di Amerika Serikat pada paruh pertama 2026.

Langkah ini merupakan bagian dari program restrukturisasi besar-besaran bertajuk "Hut Forward" yang mencakup penguatan pemasaran, modernisasi teknologi, dan pembaruan perjanjian franchise.

Keputusan ini diambil setelah Pizza Hut mencatat penurunan penjualan toko sejenis global sebesar 1 persen pada kuartal IV-2025 dan sepanjang tahun 2025.

Meski demikian, Pizza Hut International justru mencatat kenaikan berkat kinerja kuat di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia.

Pizza Hut bukan satu-satunya jaringan pizza yang merasakan tekanan.

Mod Pizza, misalnya, telah menutup 27 gerainya dan menjual asetnya.

Beberapa operator franchise besar seperti Domino's dan Little Caesars juga mengajukan perlindungan kebangkrutan sepanjang 2025.

Pull & Bear: Hening dari Singapura

Peritel fesyen asal Spanyol, Pull & Bear, secara diam-diam menutup semua tokonya di Singapura pada 22 Februari 2026.

Alasan penutupan tersebut masih misterius, namun hal ini terjadi di tengah gelombang penutupan toko global oleh perusahaan induknya, Inditex Group (pemilik Zara).

Sebelumnya, di tahun 2020, Inditex telah mengumumkan akan menutup sebanyak 1.200 toko di seluruh dunia untuk meningkatkan penjualan online.

Di Singapura sendiri, merek-merek lain dalam grup yang sama seperti Bershka juga telah mengurangi skala operasinya.

Meski toko fisik ditutup, pengembalian barang untuk pembelian online masih dapat dilakukan di Zara VivoCity.

Nasib toko online Pull & Bear di Singapura sendiri masih belum jelas hingga saat ini.

Lebih dari Sekadar Fesyen dan Pizza

Selain brand-brand di atas, ada beberapa nama besar lain yang juga ikut "meredup" di tahun 2026. Berikut rangkumannya dalam sebuah tabel:

Brand

Jumlah Gerai Ditutup

Wilayah Utama

Alasan Utama

Macy's

150 lokasi (hingga akhir 2026)

Amerika Serikat

Fokus pada gerai terbaik dan online (strategi "Bold New Chapter")

GameStop

470 gerai (dari total 2.000)

Amerika Serikat

Optimalisasi jaringan di tengah penurunan penjualan game fisik

Wendy's

Sekitar 300 restoran (5-6% dari total)

Amerika Serikat

Penutupan restoran berkinerja buruk di paruh pertama 2026

Kroger

60 toko

Amerika Serikat

Restrukturisasi 18 bulan untuk menutup toko yang tidak menguntungkan

Saks Global

8 Saks Fifth Avenue & 57 Saks Off 5th

Amerika Serikat

Restrukturisasi pasca kebangkrutan Chapter 11

Francesca's

Seluruh ~400 gerai

Amerika Serikat

Likuidasi setelah mengajukan kebangkrutan

Carter's

150 toko (sekitar 100 pada 2026)

Amerika Serikat

Menutup toko dengan margin rendah

Eddie Bauer

Seluruh 175 gerai (AS & Kanada)

Amerika Utara

Likuidasi Chapter 11, produk hanya tersedia online

Ikea

1 lokasi (Memphis, Tennessee)

Amerika Serikat

Bagian dari strategi modernisasi jejak fisik di AS

No Brand

11 toko

Filipina

Penyederhanaan portofolio oleh Robinsons Retail

Kering Group

Rencana 100 penutupan tambahan (setelah 133 pada 2025)

Global

Menargetkan lokasi berkinerja buruk, fokus pada strategi premium

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Q: Apakah penutupan gerai-gerai ini berdampak pada Indonesia?
A: Beberapa di antaranya berdampak langsung, seperti penutupan seluruh gerai fisik Innisfree di Indonesia. Sementara untuk brand lain seperti H&M dan Guess, penutupan masih bersifat global, dan belum ada informasi spesifik mengenai nasib gerai mereka di Tanah Air.

Q: Apa penyebab utama di balik gelombang penutupan ini?
A: Ada tiga faktor utama: Pertama, perubahan perilaku konsumen yang semakin masif beralih ke belanja online pasca-pandemi. Kedua, kenaikan biaya operasional seperti sewa, tenaga kerja, dan bahan baku yang menekan margin keuntungan. Ketiga, persaingan ketat dari merek lokal yang lebih gesit dalam merespons tren.

Q: Apakah penutupan gerai berarti brand tersebut bangkrut?
A: Tidak selalu. Banyak brand seperti H&M dan Innisfree yang menutup gerai fisik sebagai bagian dari strategi transformasi digital, bukan karena bangkrut. Mereka tetap beroperasi dan menjual produk secara online. Namun, beberapa brand seperti Francesca's dan Eddie Bauer memang mengajukan kebangkrutan dan melakukan likuidasi total.

Q: Apa yang harus dilakukan jika memiliki kartu hadiah (gift card) dari brand yang menutup gerai?
A: Segera gunakan kartu hadiah tersebut sebelum batas waktu yang ditentukan. Dalam kasus seperti Eddie Bauer, perusahaan memberi tenggat hingga 12 Maret 2026 untuk menukarkan hadiah. Selalu pantau pengumuman resmi dari brand terkait.

Penutup

Gelombang penutupan gerai di tahun 2026 adalah alarm yang menandakan bahwa lanskap ritel global telah berubah secara fundamental.

Brand yang tidak mampu beradaptasi dengan era digital dan perubahan perilaku konsumen akan tergerus, sementara mereka yang berani bertransformasi mungkin akan selamat dan bahkan berkembang.

Bagi konsumen, ini berarti pilihan berbelanja di toko fisik mungkin akan semakin terbatas, tetapi sebagai gantinya, pengalaman belanja online akan semakin matang, personal, dan nyaman.

Apakah Anda sudah siap menyambut era baru di mana toko fisik bukan lagi satu-satunya pilihan? Ataukah Anda termasuk orang yang masih merindukan sensasi melihat dan menyentuh produk langsung sebelum membeli? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.