Jateng

Trump Sebut Perang Hampir Usai, Harga Minyak Langsung Rontok Lebih dari 11%

Theo Adi Pratama | 11 Maret 2026, 09:37 WIB
Trump Sebut Perang Hampir Usai, Harga Minyak Langsung Rontok Lebih dari 11%
Harga minyak dunia

JATENG.AKURAT.CO, Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tentang konflik dengan Iran yang "hampir sepenuhnya selesai" langsung mengguncang pasar energi global.

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan harian terbesar sejak krisis energi global 2022, dengan Brent dan WTI merosot lebih dari 11 persen pada perdagangan Selasa (10/3/2026).

Pasar bereaksi cepat terhadap sinyal deeskalasi ini, mengabaikan fakta bahwa di lapangan, Selat Hormuz—jalur vital pengiriman sekitar seperlima minyak dunia—masih belum aman dilintasi kapal tanker.

Penurunan ini seolah memberi napas lega, namun para analis memperingatkan bahwa fondasi pasokan global sejatinya masih rapuh dan pemulihan tidak akan terjadi dalam semalam.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Tembus US$5.200, IEA Usul Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar dalam Sejarah

Pemicu Penurunan: Sinyal Damai dan Rencana Cadangan Minyak

Harga minyak jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 ditutup melemah US$11,16 atau 11% ke US$87,8 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), anjlok US$11,32 atau 11,9% menjadi US$83,45 per barel.

Penurunan tajam ini terjadi sehari setelah Trump dalam wawancara dengan CBS News menyatakan operasi militer terhadap Iran berjalan lebih cepat dari perkiraan dan konflik "hampir sepenuhnya selesai". Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga di atas US$119 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022 .

Selain faktor pernyataan Trump, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rencana International Energy Agency (IEA) yang mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah—melebihi 182 juta barel yang dirilis setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022—untuk menstabilkan pasar.

Para menteri energi G7 juga tengah membahas langkah serupa secara terkoordinasi. Di sisi lain, pemerintah AS dilaporkan tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia, yang turut menjadi faktor penekan harga di pasar global .

Kondisi di Lapangan: Selat Hormuz Masih "Lembah Kematian"

Meski harga terkoreksi, situasi di kawasan Teluk belum sepenuhnya kondusif. Selat Hormuz, jalur logistik energi paling krusial di dunia, masih lumpuh total. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran bahkan dilaporkan mulai memasang ranjau di jalur pelayaran tersebut, membuatnya dijuluki sebagai "Lembah Kematian".

Militer AS pada Selasa mengaku telah mengeliminasi 16 kapal penyebar ranjau Iran di dekat Selat tersebut .

Akibatnya, pasokan minyak global terganggu parah. Produsen-produsen utama Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Irak, secara kolektif telah mengurangi produksi lebih dari 6 juta barel per hari.

Arab Saudi bahkan terpaksa mengalihkan jalur minyak ke Laut Merah melalui pelabuhan Yanbu untuk menghindari Hormuz, dengan setidaknya 25 kapal supertanker dilaporkan menuju rute alternatif tersebut .

Gangguan juga terjadi di dalam negeri UEA. Kilang minyak terbesar di negara itu, Ruwais, yang mampu mengolah sekitar 900.000 barel per hari, terpaksa menghentikan operasinya setelah kebakaran akibat serangan pesawat tak berawak.

Konsultan energi IIR Energy melaporkan bahwa sekitar 1,9 juta barel per hari kapasitas pemrosesan minyak di kawasan Teluk telah berhenti beroperasi akibat perang .

Analis: Penurunan Sementara, Pemulihan Butuh Waktu

Para analis menilai penurunan harga minyak kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen psikologis pasar yang merespons pernyataan Trump dan rencana pelepasan cadangan.

"Pernyataan Trump sejauh ini lebih banyak memberi waktu bagi pasar untuk menilai situasi yang sebenarnya," ujar analis energi dari Marex CSC, Sasha Foss .

Pendiri Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menambahkan bahwa penurunan ini juga mencerminkan reaksi pasar terhadap kemungkinan dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz .

Namun, Chairman Wood Mackenzie, Simon Flowers, mengingatkan bahwa rantai pasokan energi tidak akan bisa kembali normal dalam waktu singkat meskipun perang berakhir.

"Minyak yang tersimpan di kilang atau pelabuhan mungkin dapat segera dikirim, tetapi jika sumur minyak telah lama dihentikan operasinya, proses untuk mengembalikan output ke kapasitas penuh bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan lebih lama," jelasnya .

Dampak Domestik dan Prospek ke Depan

Penurunan harga minyak global tentu membawa angin segar bagi konsumen, termasuk Indonesia. Namun, pemerintah AS sendiri diperkirakan sensitif terhadap kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu.

Data American Automobile Association menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar US$3,539 per galon pada Selasa, naik signifikan dari sebulan sebelumnya yang hanya US$2,921 per galon .

Ke depan, pasar masih akan bergulat dengan dua skenario: deeskalasi cepat yang memulihkan pasokan secara bertahap, atau eskalasi berkelanjutan yang bisa mengerek harga kembali ke level tertinggi.

JPMorgan memperingatkan bahwa potensi kehilangan pasokan bisa mencapai 12 juta barel per hari dalam dua minggu ke depan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Sementara itu, bank investasi Goldman Sachs memilih wait and see dengan tetap mempertahankan proyeksi harga Brent di kisaran US$66 per barel pada kuartal keempat.

Satu hal yang pasti, ketegangan di Timur Tengah masih akan menjadi penentu utama volatilitas harga energi global dalam waktu dekat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.