Jateng

Sekam Padi dan Tongkol Jagung Tak Lagi Terbuang, Tim Ekspedisi Patriot Undip Sulap Jadi Biochar di Papua

Arixc Ardana | 15 September 2026, 14:55 WIB
Sekam Padi dan Tongkol Jagung Tak Lagi Terbuang, Tim Ekspedisi Patriot Undip Sulap Jadi Biochar di Papua
Biochar merupakan material padat yang kaya karbon dan dihasilkan melalui proses pembakaran tidak sempurna atau karbonisasi biomassa organik.

JATENG.AKURAT.CO – Limbah pertanian seperti sekam padi dan tongkol jagung kerap dianggap tidak memiliki nilai guna.

Namun, di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, material tersebut mulai dikembangkan menjadi sumber daya baru untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

Inovasi itu dikembangkan Tim 12 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui pemanfaatan biochar.

Teknologi tersebut diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga membuka peluang penerapan konsep ekonomi hijau di tengah masyarakat.

Tim yang dipimpin Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si., dosen Program Studi S1 Agroekoteknologi, Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) UNDIP, terdiri atas lima anggota dari berbagai latar belakang keilmuan.

Mereka adalah Fitran Dzulfikar Haryono, S.P.; Nurkhafizah, S.P.W.K.; Marta Junika Tambunan, S.Sos.; Ardhian Sasmita, S.A.B.; serta Putri Duwi Ulia Sari, S.TP.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan dalam mengembangkan program, mulai dari aspek pertanian, pengembangan wilayah, sosial kemasyarakatan, teknologi pengolahan hingga pemberdayaan ekonomi.

Ubah Limbah Pertanian Menjadi Biochar

Biochar merupakan material padat yang kaya karbon dan dihasilkan melalui proses pembakaran tidak sempurna atau karbonisasi biomassa organik.

Di Senggi, Tim 12 melihat sekam padi dan tongkol jagung sebagai bahan baku yang potensial. Selama ini, kedua jenis biomassa tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Untuk mengolahnya, tim tengah mengembangkan alat pirolisis sederhana berbahan drum. Alat tersebut bekerja dengan membakar biomassa dalam kondisi minim oksigen sehingga menghasilkan biochar.

Selain menggunakan pirolisis drum, Tim 12 juga melakukan uji coba metode Kon-Tiki.

Teknik tersebut memanfaatkan wadah atau lubang berbentuk kerucut terbalik untuk menghasilkan biochar. Berdasarkan percobaan awal, metode Kon-Tiki dinilai relatif sederhana sehingga berpotensi diterapkan masyarakat tanpa membutuhkan peralatan yang rumit.

Ketua Tim 12 Ekspedisi Patriot UNDIP, Muhammad Iqbal Fauzan, mengatakan teknologi yang dikembangkan sengaja disesuaikan dengan kondisi serta sumber daya yang tersedia di kawasan transmigrasi.

“Sekam padi dan tongkol jagung yang tersedia di kawasan ini sebenarnya merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Kami ingin teknologi biochar nantinya tidak berhenti pada kegiatan tim, tetapi dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Karena itu, kami mencoba metode yang relatif sederhana, seperti pirolisis drum dan Kon-Tiki,” ujar Iqbal.

Biochar Diuji Langsung di Lahan Jagung

Pengembangan biochar tidak berhenti pada proses produksi. Tim 12 juga menyiapkan lahan percontohan atau demonstration plot (demplot) untuk melihat penerapannya secara langsung.

Demplot tersebut digunakan untuk penanaman jagung dengan biochar diaplikasikan sebagai amelioran atau bahan pembenah tanah.

Penggunaan biochar diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi tanah Senggi yang relatif masam. Material tersebut berpotensi meningkatkan pori-pori tanah dan kemampuan tanah menyimpan air.

Selain itu, aplikasi biochar juga berpotensi membantu meningkatkan pH tanah sehingga unsur hara dapat lebih mudah diserap tanaman.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada produk biochar, tetapi juga dapat melihat secara langsung bagaimana material hasil pengolahan limbah pertanian itu diterapkan pada lahan.

Warga Senggi Diajari Membuat Biochar

Aspek pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dalam program Tim 12.

Agar inovasi tidak berhenti setelah masa ekspedisi selesai, tim menggelar pelatihan dan workshop pembuatan biochar bagi warga setempat.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diajak mempraktikkan proses pembuatan biochar secara langsung. Tahapannya dimulai dari pemilihan bahan baku, karbonisasi menggunakan drum pirolisis maupun metode Kon-Tiki, hingga teknik mengaplikasikan biochar ke lahan pertanian.

Dengan metode praktik langsung, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri menggunakan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.

“Biochar tidak hanya kami lihat sebagai pembenah tanah. Ketika residu pertanian dapat diolah kembali menjadi bahan yang bermanfaat bagi lahan, di sana terdapat prinsip ekonomi hijau. Sumber daya lokal dapat digunakan lebih efisien, limbah berkurang, dan ke depan dapat terbuka peluang nilai tambah bagi masyarakat,” tambah Iqbal.

Dorong Pertanian Sirkular dan Ekonomi Hijau

Pemanfaatan sekam padi dan tongkol jagung menjadi biochar juga diarahkan untuk membangun pola pertanian sirkular.

Dalam konsep tersebut, residu yang dihasilkan dari aktivitas pertanian tidak langsung dianggap sebagai limbah. Biomassa tersebut justru diolah kembali agar dapat masuk ke dalam sistem produksi dan memberikan manfaat baru.

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya membangun ekonomi hijau di kawasan transmigrasi.

Melalui teknologi sederhana yang memanfaatkan bahan lokal, masyarakat berpeluang mengurangi limbah sekaligus mendapatkan material yang dapat digunakan kembali untuk mendukung produktivitas lahan.

Tim 12 berharap program tersebut dapat terus berjalan setelah kegiatan Ekspedisi Patriot selesai.

Karena itu, warisan utama yang ingin ditinggalkan bukan hanya alat maupun produk biochar, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan masyarakat secara mandiri.

Selaras dengan Target SDGs

Program pengembangan biochar Tim 12 Ekspedisi Patriot UNDIP juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs).

Pada SDG 2 (Zero Hunger), program diarahkan untuk mendukung praktik budidaya dan pengelolaan tanah yang lebih berkelanjutan.

Sementara SDG 4 (Quality Education) diwujudkan melalui kegiatan pelatihan dan workshop bagi masyarakat.

Pemanfaatan sekam padi dan tongkol jagung sebagai bahan biochar juga mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) karena mendorong penggunaan kembali residu pertanian.

Adapun dari sisi lingkungan, pengolahan biomassa menjadi material karbon yang lebih stabil serta penerapan sistem pertanian berkelanjutan turut mendukung SDG 13 (Climate Action).

Dengan memadukan teknologi tepat guna, penelitian, pendampingan pertanian dan pemberdayaan masyarakat, Tim 12 Ekspedisi Patriot UNDIP berharap inovasi biochar dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang bagi masyarakat Kawasan Transmigrasi Senggi.

Dari sekam padi dan tongkol jagung yang sebelumnya belum termanfaatkan secara maksimal, kini muncul peluang untuk memperbaiki tanah, mengurangi limbah, sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat Papua.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.